PERAN SENTRAL KELUARGA : UJUNG TOMBAK PENDIDIKAN KARAKTER ANAK BANGSA
Pendahuluan
Islam memandang bahwa anak adalah karunia yang diciptakan dan dianugerahkan Allah Swt untuk sepasang suami istri yang telah berjanji menjalin ikatan suci pernikahan. (Raihana : 2015, h. 39) Anak merupakan amanah dari Allah Swt yang paling berharga, bak permata yang masih polos. Permata itu siap menerima berbagai bentuk pahatan serta memiliki kecenderungan terhadap kebiasaan yang diberlakukan kepadanya oleh ayah dan ibunya. Ya, anak adalah amanah. (Zarman : 2017, h. 93) Lebih dari itu, anak adalah qurrata a’yuun, penyedap mata, dan tentunya penetram jiwa buat kedua orangtuanya. (Eddy : 2004, h. 2) Seperti yang dimunajatkan setiap selesai sholat kepada Allah. (Huzaery : 2015, h. 8) Menjaganya, tentu kewajiban orang tua.
Terminologi Al-Qur’an menyatakan bahwa anak sering disebut dengan kata walad atau aulad. Selain itu, sering juga disandingkan dengan kata amwal (harta). Harta ini diberikan oleh Allah Swt sebagai rezeki dan karunia yang menyenangkan bagi orang yang menerimanya. (Baihaqi : 2012, h. 5) Akan tetapi, jika tidak pandai mengelolanya, harta justru dapat mencelakakan manusia yang dititipkan harta tersebut. Demikian juga halnya dengan anak. Awalnya anak adalah semacam rezeki yang menyenangkan bagi orangtua. Selanjutnya, anak dapat menjadi beban dan masalah bagi orangtua ataupun lingkungannya jika tidak dikelola dengan baik.
Zaman semakin berkembang, tentunya permasalahan semakin kompleks, sebuah penelitian yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2013 menyatakan bahwa angka kenakalan remaja di Indonesia mencapai 6325 kasus, 2014 : 7007 kasus, 2015 : 7762 kasus. Artinya dari tahun 2013-2015 mengalami kenaikan sebesar 10,7 % yang meliputi kasus kenakalan remaja diantaranya, pencurian, pembunuhan, pergaulan bebas dan narkoba. Prediksi tahun 2016 mencapai 8567,97 kasus, 2017 sebesar 9523, 97 kasus, 2018 sebanyak 10549,70 kasus, 2019 mencapai 11685,90 kasus dan pada tahun 2020 mencapai 12944,47 kasus. Mengalami kenaikan tiap tahunnya sebesar 10,7 % (http://imadiklus.com/wp-content/uploads/2016/10/LENPNF2016-LuluPutriUtami-UNTIRTA-PLS-Sebagai-Solusi-Alternatif-Kenakalan-dan-Gegradasi-remaja.pdf, akses 3 maret 2018)
Beberapa fakta diatas merupakan contoh temuan yang mengejutkan, dilihat dari aspek pendidikan Islam, terutama dalam konteks keluarga merupakan sedikitnya contoh dari bentuk kegagalan dalam penataan rumah tangga. Terlalu banyak kasus-kasus yang merusak generasi anak bangsa untuk disebutkan satu persatu. Lantas bagaimana para orangtua dapat menjelaskan dan mempertanggungjawabkan amanah yang telah di berikan di hadapan mahkamah Allah Swt kelak? Padahal Allah Swt sudah menegaskan dalam firmannya yang menyatakan bahwa “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu; penjaganya malaikat-malaikat yang keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim [66]:6)
Berangkat dari hal-hal tersebut, menurut penulis nampaknya sangat perlu untuk disadari bagi kita semua betapa pentingnya peran sebuah keluarga, yang dalam kesempatan kali ini penulis akan memaparkan berbagai fakta, permasalahan dan solusi menurut perspektif Al-Qur’an, dengan judul Peran Sentral Keluarga : Ujung Tombak Pendidikan Karakter Anak Bangsa.
Apa yang Menyebabkan Krisis Moral Melanda Mental Anak Bangsa?
Sebagaimana yang kita rasakan saat ini, kita sedang di hadapkan dengan kerusakan akhlak yang semakin merajalela di kalangan generasi muda. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Kita dapat merasakan pola pikir dan pola kehidupan yang menitikberatkan kehidupan duniawi yang tidak berlandaskan agama semakin menguat. (Zarman : 2017, h. 64) Kehidupan politik, sosial, ekonomi, hukum, seni, dan pendidikan semakin dijauhkan dari paham agama. Mengapa demikian? Karena lemahnya banteng pertahanan diri para penerus negeri yang nampaknya sudah dikuasai dengan kemajuan zaman dan teknologi.
Selain itu, kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanak. (http://ntb.bkkbn.go.id/lists/artikel/dispform.aspx?id=673&contenttypeid=0x0/ diakses 4 april 2018) Sekian banyak penyakit moral yaitu egois, anarkis, hilangnya rasa percaya diri, sombong, munafik, dan tidak bertanggungjawab adalah bersumber dan berawal dari suasana kehidupan keluarga. (Utfatmi : 2011, h.31)
Akibatnya, pergaulan bebas, hura-hura, pecandu narkoba bertebaran, lenyapnya sopan santun, rendahnya semangat belajar dan berusaha, tawuran, telah menjadi penyakit yang banyak menjangkiti kaum remaja saat ini. Kaburnya nilai kebenaran yang muncul karena menguatnya pandangan hidup sekuler yang meminggirkan agama. Sekiranya sejak awal telah ditanamkan identitas mereka sebagai muslim, lengkap dengan seperangkat aturan dan nilai yang harus dipegang teguh, maka mereka tidak perlu mengalami krisis identitas ini. (Zarman : 2017, h. 72)
Kemudian bagaimana para orangtua dapat menjelaskan kepada Allah Swt mengenai pertanggungjawaban mereka akan keluarganya? Padahal Allah Swt telah mengingatkan kita pada firmannya yang berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia-manusia dan batu-batu; Diatasnya malaikat-malaikat yang kasar-kasar, yang keras-keras, yang tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim [66]:6)
M.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan ayat ini menggambarkan bahwa kedua orangtua bertanggungjawab terhadap anak-anak dan juga pasangan masing-masing sebagaimana bertanggungjawab atas kelakuannya sendiri. Ayah dan ibu diperintahkan menciptakan suatu rumah tangga yang diliputi oleh nilai-nilai agama serta dinaungi oleh hubungan yang harmonis. (Shihab: 2009, h. 178)
Sejalan dengan tafsir ulama sebelumnya, Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara mengenai perintah untuk bertakwa kepada Allah dan berpesanlah kepada keluarga kalian untuk bertakwa kepada Allah. (Katsir : 2003, h. 229)
Sepakat dengan pernyataan-pernyataan diatas, didalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan pula bahwa maksud dari ayat tersebut ialah ajarilah keluargamu dengan melakukan ketaatan kepada Allah yang dengannya akan menjaga diri mereka dari neraka. (Thabari : 2001, h. 491)
Menurut hemat penulis, sudah seharusnya lingkungan keluarga dijadikan sebagai “sekolah pertama” bagi pendidikan karakter anak. Baik dan buruknya seorang anak terlihat dari cara kedua orangtuanya mendidik, sampai dikatakan bahwa anak adalah cerminan dari orang tuanya. Hendaknya para orangtua melaksanakan dan mengupayakan perintah Allah Swt untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya dari panasnya api neraka. Karena semua akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak atas apa yang diamanahkannya.
Keadaan keluarga yang tidak harmonis dapat menjadikan sebab timbulnya kenakalan remaja. Ketidak harmonisan dalam keluarga bukan hanya soal perceraian, kekerasan dalam rumah tangga ataupun himpitan ekonomi, namun penyumbang tertinggi permasalahan ini terdapat pada ketidakfahaman orang tua pada substansi dasar-dasar pendidikan. (http://imadiklus.com/wp-content/uploads/2016/10/LENPNF2016-LuluPutriUtami-UNTIRTA-PLS-Sebagai-Solusi-Alternatif-Kenakalan-dan-Gegradasi-remaja.pdf akses 4 april 2018)
Lalu Bagaimana Al-Qur’an Memandang Peran Sentral Keluarga sebagai Ujung Tombak Pendidikan Karakter Anak Bangsa?
Islam sebagai “Agama Samawi” yang terakhir mempunyai moral Islam, yang mengatur manusia dengan Allah (khalik), mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya, serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri. (Salam : 2007, h. 84) Tak terkecuali menyangkut keluarga yaitu sebagai ujung tombak pendidikan karakter anak. Karena keluarga merupakan kesatuan terkecil dalam masyarakat yang sangat berpengaruh kepada masa depan bangsa dan Negara. (Ulfatmi : 2011, h. 30) Menurut hemat penulis, peran sentral keluarga sebagai pendidik utama, secara garis beras meliputi beberapa aspek, antara lain memberikan pengajaran dan arahan mengenai akidah, ibadah, dan akhlak.
Pertama, Penanaman Akidah
Hal yang pertama dan paling utama peran keluarga dalam pembentukkan karakter anak ialah Tauhidullah. Tauhid secara bahasa adalah mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa sesuatu itu satu. Secara terminologis, tauhid adalah penghambaan diri hanya kepada Allah Swt dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh rasa rendah hati , cinta, harap, dan takut hanya kepada-Nya. (Musdah : 2011, h. 6) Mengesakan Allah ini adalah prinsip yang paling utama di dalam Islam karena semua nilai didalam Islam dibangun atas dasar prinsip Keesaan Allah. Inilah misi utama para Nabi dan Rasul yang diturunkan Allah ke bumi. (Wendi : 2017, h. 163)
Nabi Saw telah memberikan petunjuk kepada kita sebagaimana dalam riwayat hadits berikut :
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Saw bersabda, “Ajarkanlah kalimat pertama kepada anak-anak kalian ‘Laa Ilaha Illallah’ dan talqinkan ketika akan meninggal dengan kalimat ‘Laa Ilaha Illallah”.” (HR. Hakim)
Hal ini juga senada dengan firman Allah Swt yang berbunyi :
وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai Anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar’.” (QS. Luqman [31]: 13)
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bentuk kesyukuran kepada Allah, dan yang tercermin pada pengenalan terhadap-Nya dan anugerah-Nya, kini ayat tersebut menjadi pelestarian kepada anaknya. Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik/mempersekutukan Allah. (Shihab : 2002, h. 127)
Sejalan dengan penjelasan diatas, Tafsir al Qurthubi menyatakan bahwa makna ayat diatas merupakan perkataan yang benar berisikan perintah Allah Swt dan Luqman memerintahkan anaknya dengan kalimat yang sama yaitu mengesakan Allah. (Qurthubi : 2009, h. 151)
Tak jauh berbeda dengan berbagai pernyataan diatas, Tafsir Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini merupakan upaya Luqman dalam memberikan pengajaran kepada anaknya bahwa mempersekutukan Allah Swt merupakan suatu kedzaliman yang besar. (Thabari : 752)
Penulis dapat menyimpulkan berdasarkan tafsir para ulama diatas, bahwa ayat tersebut merupakan perintah langsung dari Allah Swt untuk seorang ayah yang merupakan salah satu orangtua dari sang anak untuk keharusan mengesakan Allah dan larangan mempersekutukan Allah Swt. Tentunya dengan memahami ayat diatas kita dapat memetik hikmah bahwa hal yang paling pertama dan utama ialah menanamkan akidah yang kuat untuk generasi penerus kita, karna akidah merupakan pondasi diri yang mana apabila akidah sang anak baik, maka prilaku dan sifatnya akan menjadi baik. Dan sebaliknya, ketika sang anak tidak memiliki akidah yang kuat maka dia akan mudah goyah diterpa keganasan zaman yang semakin menyingkirkan nilai-nilai agama dari kehidupan.
Raihana dalam bukunya yaitu Tanggung Jawab Orangtua terhadap Pendidikan Anak dalam Keluarga menjelaskan bahwa menurut Imam Sajjad as berkata: “Engkau mempunyai tanggungjawab untuk mendidiknya, menunjukkan kepada Tuhannya dan membantunya untuk taat kepada-Nya. Oleh sebab itu, berbuatlah dalam urusannya seperti perbuatan orang yang tahu jika ia berbuat baik kepadanya maka ia mendapat pahala dan jika berbuat buruk kepadanya maka ia mendapat siksa.” (Ulfatmi : 2015, h. 49)
Kedua, Penguatan Ibadah
Selain penanaman akidah, Imam al-Ghazali juga menganjurkan agar anak menyibukkan diri dengan aktivitas ibadah. Karena ibadah merupakan perwujudan kuat atau lemahnya akidah seorang muslim. ( Huzaery : 2014, h. 177) Menjelaskan aspek pendidikan ibadah tidak sebatas tentang kaifiyah dimana menjalankan ibadah lebih bersifat fiqiyah termasuk menanamkan nilai-nilai dibalik ibadah tersebut. Misalnya seperti ibadah shalat. (Raihana : 2015, h. 50)
Allah Swt memerintahkan secara khusus mengenai perintah ibadah salah satunya adalah shalat yang ditujukan kepada keluarga sebagaimana firmannya yang berbunyi:
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ لَا نَسَۡٔلُكَ رِزۡقٗاۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَۗ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ ١٣٢
Artinya: “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersungguh-sungguhlah bersabar atasnya. Kami tidak meminta kepadamu rezeki, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan adalah bagi ketakwaan.” (QS. Thaha [20]: 132)
M.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan ayat ini memerintahkan Nabi Saw dan setiap kepala keluarga muslim bahwa dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat secara baik dan berkesinambungan pada setiap waktunya dan bersungguh-sungguh wahai Nabi Muhammad, dalam bersabar atasnya, yakni dalam melaksankannya. (Shihab : 2002, h. 712)
Mengingat betapa tegasnya Allah Swt memberikan perintah untuk melaksanakan ibadah shalat dan mengajarkannya kepada generasi-generasi penerus kita, dalam firmannya pada QS. Luqman [31]: 17 yang berbunyi:
يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ١٧
Artinya:”Hai Anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman [31]: 17)
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menyatakan bahwa ayat ini menjelaskan mengenai nasihat Luqman di atas menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan amal-amal shaleh yang puncaknya adalah shalat, serta amal-amal kebajikan yang tercermin dalam amr ma’ruf dan nahi munkar, juga nasihat berupa perisai yang membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah. (Shihab : 2002, h. 137)
Sejalan dengan pernyataan diatas, Tafsir Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini menjelaskan tentang seorang ayah yang berwasiat kepada anaknya dengan ketaatan-ketaatan yang paling besar yaitu shalat, inilah ketaatan dan keutamaan paling utama. (Qurthubi : 2009, h. 163)
Tak jauh berbeda dengan tafsir-tafsir sebelumnya, Tafsir Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa sesungguhnya semua itu termasuk perkara-perkara yang diperintahkan Allah agar dilaksanakan dengan keteguhan. ( Thabari : 2009, h. 767)
Berangkat dari tafsir-tafsir diatas, maka penulis dapat mengambil makna bahwa Allah Swt telah memerintahkan kepada para orang tua untuk memberikan pengajaran kepada anak-anak untuk menjalankan kewajiban sebagai umat muslim yaitu melaksanakan shalat. Penguatan ibadah yang diajarkan oleh orang tua tidak semata-mata hanya sebuah gerakan-gerakan tanpa arti, tetapi juga berperan mengajarkan bahwa substansi shalat tak hanya sebagai aktifitas untuk menggugurkan kewajiban sebagai umat muslim, tetapi juga memahami substansi dan makna dari shalat itu sendiri, yang apabila kita pahami bahwa shalat menjauhkan dari perbuatan keji dan munkar. dengan upaya demikian maka tertanam pada jiwa sang anak ruhiyah ibadah yang dilakukannya selama ini.
Ketiga, Pendidikan Akhlak
Akhlak merupakan fondasi dasar sebuah karakter diri. Sehingga pribadi yang berakhlak baik nantinya akan menjadi bagian dari masyarakat yang baik pula. Akhlak dalam Islam juga memiliki nilai yang mutlak karena persepsi antara akhlak baik dan buruk memiliki nilai yang dapat diterapkan pada kondisi apapun. Tentu saja, hal ini sesuai dengan fitrah manusia yang menempatkan akhlak sebagai pemelihara eksistensi manusia sebagai makhluk yang paling mulia. (Ulil : 2012, h. 68)
Rasulullah dinyatakan berakhlak mulia karena sikap dan ketaatannya pada ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an. Ketaatan beliau menjadi bagian yang tak terpisahkan pada setiap suasana kehidupannya, sehingga jawaban Aisyah Radhiyallahu Anha tentang akhlak beliau menjadi batasan ideal tentang pemaknaan seorang itu sempurna tidaknya akhlaq karimah-nya. (Ulil : 2012, h. 75)
Pernyataan diatas senada dengan firman Allah Swt yang berbunyi:
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang mencontoh Rasulullah Saw dalam berbagai perkataan, perbuatan, dan perilakunya. Untuk itu Allah Swt memerintahkan manusia untuk meneladani Nabi Muhammad Saw pada hari Ahzab dalam kesabaran, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabarannya dalam menanti pertolongan dari Rabb-nya. (Katsir : 2003, h. 461)
Sejalan dengan tafsir diatas, dalam Tafsir Jalalain juga dijelaskan bahwa jika bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, berbahagia hidup di dunia dan akhirat, maka meneladani Rasulullah Saw merupakan jalan yang tepat. (http://www.risalahislam.com/2014/01/teladan-rasulullah-saw-tafsir-qs-al.html akses 16 april 2018)
Berdasarkan tafsir dari berbagai ulama diatas, maka penulis dapat memahami bahwa tugas orangtua sebagai sekolah pertama untuk sang anak memang bukan hal yang mudah, tetapi Islam sudah menyajikan dan menunjukkan bahwa tuntunan pendidikan akhlak yang paling tepat diterapkan ialah meneladani akhlak Rasulullah Saw, yaitu utusan Allah Swt yang Maha Mulia. Rasulullah telah memberikan keteladanan sikap, sifat serta prilakunya disetiap aspek kehidupan. Ini artinya kita sebagai umat Islam sudah menemukan “kamus lengkap” pedoman akhlak dikehidupan.
Pendidikan akhlak dalam keluarga dilaksanakan dengan contoh teladan dari orangtua. Perilaku sopan santun orang dalam hubungan dan pergaulan antara ibu dan bapak, perlakuan orangtua terhadap anak-anaknya, dan perlakuan orangtua terhadap orang lain didalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat, akan menjadi teladan bagi anak-anak. (Hamid : 2013, h. 197)
Penutup
Penulis dapat menyimpulkan bahwa anak merupakan karunia luar biasa dari Allah Swt untuk para orang tua, anak juga sering disandingkan dengan kata “harta” yang apabila harta ini tidak dijaga dengan baik, maka akan menjadi kemalapetakaan bagi orangtuanya. Penyebab moral anak bangsa mengalami krisis identitas antara lain karena lemahnya banteng akidah dan identitas mereka sebagai seorang muslim. Karena zaman semakin maju dan berkembang dan permasalahan semakin kompleks, maka anak yang tak mampu menghadapi tantangan-tantangan dunia akan kalah dan menjadi budak zaman kekinian. Jika dari awal sang anak sudah memiliki pertahanan iman dan takwa, maka anak bangsa tak perlu mengalami krisis identitas ini.
Solusi yang ditawarkan Al-Qur’an untuk keluarga yang merupakan ujung tombak pendidikan karakter anak bangsa antara lain secara garis besar yaitu penanaman akidah, penguatan ibadah, dan pendidikan akhlak. Hal ini selain mengacu kepada Al-Qur’an juga pada keteladanan Rasulullah Saw yang menjadi solusi tepat untuk memperbaiki karakter anak bangsa saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Raihana, “Tanggung Jawab Orangtua terhadap Pendidikan Anak dalam Keluarga Kajian Surah At-Tahrim Ayat 6”, Yogyakarta : Aswaja Pressindo, 2015.
Adriansyah, Eddy, dkk, “Jendela Keluarga”, Bandung : MQS Publishing, 2004.
Baihaqi, Ihsan, “Renungan Dahsyat untuk Orangtua”, Bandung : Khazanah Intelektual, 2012.
Zarman, Wendi, “Ternyata Mendidik Anak cara Rasulullah Mudah & Efektif”, Jakarta : PT. Kawah Media, 2017
Huzaery, Hery, “Agar Anak Kita menjadi Saleh (Islamic Parenting Series)”, Solo : Penerbit Aqwam, 2015
Musdah, Siti, “Membangun Surga di Bumi (Kiat-kiat Membina Keluarga Ideal dalam Islam)”, Jakarta : PT. Gramedia, 2011.
Shihab, Quraish, “Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an) volume 12”, Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Ja’far, Abu, “Tafsir Ath-Thabari” Volume 22”, Jakarta : Pustaka Azzam, 2009.
Muhammad, Bin Abdullah, “Tafsir Ibnu Katsir” Volume 8”, Bogor : Pustaka Imam Syafi’I, 2003.
Muhammad, Bin Abdullah, “Tafsir Ibnu Katsir” Volume 5”, Bogor : Pustaka Imam Syafi’I, 2003.
Ja’far, Abu, “Tafsir Ath-Thabari” Volume 20”, Jakarta : Pustaka Azzam, 2009.
Qurthubi, “Tafsir Al-Qurthubi” Volume 14, Jakarta : Pustaka Azzam, 2009
Shihab, Quraish, “Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an)” Volume 11”, Jakarta : Penerbit Lentera Hati, 2003.
Hamid, Hamdani dkk, “Pendidikan Karakter Perspektif Islam”, Bandung : Pustaka Setia, 2013
Ulfatmi, “Keluarga Sakinah dalam Perspektif Islam”, Kementerian Agama RI, 2011
Shihab, Quraish, “Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an)” Volume 7”, Jakarta : Penerbit Lentera Hati, 2002
Shihab, Quraish, “Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an)” Volume 14”, Jakarta : Penerbit Lentera Hati, 2002
Amri, Ulil, “Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an”, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2012
Raihana, “Tanggung Jawab Orangtua Terhadap Pendidikan Anak dalam Keluarga Kajian Surah Al-Tahrim Ayat 6”, Yogyakarta : Aswaja Pressindo, 2015
Musdah, Siti, “Membangun Surga di Bumi: Kiat-kiat Membina Keluarga Ideal dalam Islam”, Jakarta : PT. Elex Media Komputindo, 2011
B. Internet
http://imadiklus.com/wp-content/uploads/2016/10/LENPNF2016-LuluPutriUtami-UNTIRTA-PLS-Sebagai-Solusi-Alternatif-Kenakalan-dan-Gegradasi-remaja.pdf, akses 3 maret 2018
http://ntb.bkkbn.go.id/lists/artikel/dispform.aspx?id=673&contenttypeid=0x0/ diakses 4 april 2018)
http://www.risalahislam.com/2014/01/teladan-rasulullah-saw-tafsir-qs-al.html akses 16 april
Mantap tulisannya ukhty
BalasHapus